Young Entrepreneur Segera Lahir di Pantai Depok

Dukungan 0 Comment

sumber: http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/1id36365.html

“Selamat pagi.!” ujar peserta Program Campus Entrepreneur serempak menyahut salam dari Ciputra, bos Grup Ciputra, mengawali pertemuan malam, 13 Desember 2007.

Berbagai pertanyaan seputar kiat berbisnis meluncur dari mulut para sarjana alumnus UGM. Mereka yang berjumlah 28 orang itu juga menumpahkan beragam mimpi menjadi wirausaha.

Acara tanya-jawab baru dihentikan ketika Menteri Negara Koperasi dan UKM Suryadharma Ali dengan rombongannya datang, sekitar 1 jam kemudian.

“Assalamu’alaikum, selamat malam semuanya,” ujar Menteri ketika memasuki ruang pertemuan di lantai 4 gedung Sekolah Pascasarjana. Beberapa orang menjawab semestinya, tetapi kalah keras dengan suara para siswa, “Selamat pagi…!”.

Menteri pun tersenyum. Wajahnya sumringah, meski setelah seharian bertemu dengan para pedagang usai meresmikan pasar Klithikan, Pakuncen, Yogyakarta.

Pada saat beberapa anggota rombongan mulai menguap dan melawan rasa kantuk karena malam beranjak larut, Suryadharma ataupun Ciputra makin bersemangat meladeni para peserta diskusi.

“Mimpi saya, membangun daerah kapur di Panggang menjadi Bukit Cinta, seperti Hollywood,” ujar Hesty W. Sekaralit, alumnus 2003 Fakultas Teknologi Pertanian, UGM.

Sekaralit mengenal bukit tandus di perbatasan Gunungkidul dan Kabupaten Bantul ini sejak SMP. Tempat itu kerap dipakai untuk latihan Pramuka karena memiliki jalur susur pantai dan gua Ceremai.

Hendra Nursatya, alumnus 2003 Fakultas Psikologi UGM, punya gagasan berbeda. “Merapi adalah emas. Di kawasan ini potensial dibangun gedung pencakar langit, view leleran lava sangat indah. Ini bisa dijual,” ujarnya.

Di samping gedung yang berfungsi sebagai hotel, kata dia, daerah lereng Merapi bisa dibangun bungalo dan lapangan golf, untuk mereka yang ingin rileks.

“Ini potensi bisnis yang luar biasa. Kami punya konsep, tinggal dijual ke investor,” ujarnya.

Sekaralit dan Hendra menyampaikan gagasan bisnis itu setelah hampir dua bulan mengikuti Program Campus Entrepreneur, mulai dari pengenalan konsep entrepreneur, teori bisnis hingga praktik di lapangan.

Mereka adalah bagian dari 28 sarjana peserta program berjangka tiga bulan yang digagas Sekolah Pascasarjana UGM dengan Ciputra Foundation. Targetnya, menciptakan entrepreneur.

Antonius Tanan, Koordinator Tim Mentor Program Campus Entrepreneur, menjelaskan dua model pembentukan entepreneur, yang diimplementasikan dalam empat tahap proses.

Pertama, adalah CROWN yang merupakan singkatan dari Cretaivity, Retation, Opportunity, Winning dan Nothing to loose. Intinya mereka diasah berkreasi, memanfaatkan peluang tanpa risiko.

Dalam CROWN-1, mereka mendapat dana hibah untuk modal usaha, masing-masing Rp50.000, sedangkan CROWN-2 menyediakan hibah Rp250.000 dengan tantangan bisnis yang lebih rumit.

Kedua, adalah Trust Worthy. Pada tahap ini, setiap peserta tidak lagi diberi hibah tapi dana pinjaman sebesar Rp1 juta yang harus dikembalikan. Soal bisnis apa, mereka dibebaskan menentukan sendiri.

“Kami kelompok Donatelo, yakni berbisnis donat berbahan ketela,” ujar Olly Dwi Purnamasari, alumnus 2005 Teknik Elektronika, UGM.

Pada tahap CROWN-1, Olly sukses menjual paket donat yang dikemas apik sekaligus bermerek Donatelo. Dalam satu jam 400 donat habis terjual dengan omzet Rp266.000. Padahal, harga beli donatnya hanya Rp62.500.

Sukses besar ditahap pertama rupanya tak bisa diulang di Trust Worthy-2. Dengan modal yang lumayan besar, Donatelo ‘gagal’ berekspansi ke pasar mal karena tak cukup mengenali karakter pasar.

“Saya justru khawatir kalau mereka tidak pernah gagal. Mereka akan berpikir bisnis ini selalu sukses. Padalah di lapangan kadang lebih susah,” ujar Antonius, yang juga Direktur Grup Ciputra.

Proses pembelajaran entrepreneurship adalah dibenturkan dengan kegagalan. Dari sini, mereka akan dibimbing mendapatkan pelajaran dari lapangan.

Setelah memperoleh materi di kelas, mereka dirangsang berkreasi merancang bisnis, dan menangkap peluang usaha melalui praktik langsung di lapangan.

Risiko berbeda

Setiap tahapan memiliki kerumitan dan risiko yang berbeda. “Hal yang membuat kami optimistis adalah semangat mereka. Siang-malam mereka menggembleng diri untuk bisa menjadi entrepreneur.”

Pasca-Trust Worthy-2, para mentor melakukan riset untuk mencari sejumlah alternatif tempat untuk melahirkan para entrepreneur muda ini. Peserta program lalu diajak berkeliling Yogyakarta.

“Setiap kelompok punya usulan, mulai dari lereng Merapi, bukit tandus di Panggang, hingga pantai Depok. Setelah dianalisis bersama, yang paling memungkinkan di pantai Depok,” ujar Antonius.

Ketua Kelas Program Campus Entrepreneur Hendra Utama menjelaskan pantai Depok memiliki potensi besar menjadi kawasan wisata, seperti Jimbaran.

Dari aspek kegiatan ekonomi, di sini banyak nelayan pencari ikan, banyak rumah makan berdiri tetapi masih kurang dari tampilan dan layanan, dan infrastruktur transportasi juga mendukung.

Caranya, dengan menciptakan keunikan warung melalui desain interior ataupun eksterior, meningkatkan higienitas dan mutu menu makanan, peningkatan layanan, serta promosi.

“Kami sudah melakukan sosialisasi dan pendekatan dengan sejumlah pemilik warung. Tinggal pelaksanaan proyek. Tanggal 27 Januari 2008 kami akan soft launching.”

Menyimak paparan yang bersemangat, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali ataupun Ciputra siap menjadi bidan kelahiran entrepreneur muda ini.

Menteri menyarankan agar mereka tidak setengah-setengah menggarap bisnis ini. “Jangan hanya seperti KKN [kuliah kerja nyata] tapi harus punya warung,” ujarnya.

Bahkan, pada akhir sesi, Menteri menyanggupi penyediaan modal Rp200 juta, sedangkan pengusaha Ciputra memperkuat dengan menyiapkan dana padanannya.�

“Kami akan mendamping mereka dengan pola modal ventura,” ujar Ciputra.

Bila dua orang tokoh penting sudah turun tangan, bukankah masa depan mereka sudah tampak di depan mata? (fatkhul. maskur@bisnis.co.id)

Oleh Moh. Fatkhul Maskur
Wartawan Bisnis Indonesia

Author

Leave a comment

Search

Back to Top